Aku Sang Sejati
By: Azmi Jabbar Nasution
Menjadi seorang Pemimpin pasitinya harus mempunyai
kriteria menggerakan, komunikasi efektif, serta mampu menghadapi masalah yang
ada. Amanah seorang pemimpin itu sangat berat dimana dia harus mempedulikan
anggotanya, tugas yang dipikulnya, dan bagaimana semua anggotanya bekerja dalam
satu koridor dengan sang pemimpin, serta anggotanya bekerja dengan sepenuh hati
apa yang di perintahkan.
Terkadang ada pemimpin yang bermuka
dua yang selalu hanya memikirkan kepentingan dirinya saja. Dia tidak memikirkan
apa yang diinginkan anggotanya, dia selalu hanya memerintahkan anggotanya untuk
bekerja keras agar hasil yang didapat akan menjadi miliknya. Tidak ada orang
yang senang diperintah, pemimpin yang selalu hanya memberikan instruksi tidak
pernah memberikan kepercayaan kepada anggotanya dalam bentuk pikiran, solusi
ataupun tindakan, pastinya anggota tersebut tidak akan bekerja dalam sepenuh
hati dan dalam ini akan mejerumus kegagalan dalam suatu hal.
Owen D. Young (1874-1962) adalah
seorang pengusaha dan pengacara Amerika Serikat. Owen D. Young seorang pemimpin
yang suka memberika usulan, bukan perintah. Misal, Owen D. Young tidak pernah
berkata, “Kerjakan ini, lakukan itu,” atau “Jangan kerjakan ini, jangan lakukan
itu.” Dia akan berkata, “Tolong pertimbangkan hal ini,” atau “Apa kira-kira
yang bisa dikerjakan?.” Dia selalu memberi kesempatan pada orang untuk
melakukan apa-apa sendiri; dia tidak pernah menyuruh anggotanya melakukan suatu
pekerjaan; dia membiarkan mereka mengambil prakarsa sendiri, dan belajar
sesuatu dari kesalahan yang mereka perbuat.
Dari hal ini pemimpin harus saling
percaya terhadap anggotanya sendiri, agar anggotanya tersebut akan suka teknik
kepemimpinanya. Bila teknik kepercayaan ini dilakukan dengan baik, seorang
pemimpin akan mudah memperbaiki kesalahan. Teknik ini juga mengembangkan
kebanggaan seseorang dan memberikan perasaan bahwa dirinya penting. Teknik ini
mengembangkan sikap kerja sama, menjauhkan sikap memberontak.
Benjamin Franklin(1706-1790) adalah
tokoh besar Amerika Serikat, Ia seorang wartawan, penerbit, dan diplomat.
Franklin, ketika muda sosok orang yang tidak peka, menjadi diplomatis dan
begitu andal dalam menangani orang, karena hal ini dia ditugaskan menjadi duta
besar Amerika untuk Prancis. Rahasia Sukses Franklin ialah; “saya tidak akan
bicara buruk tentang orang lain,” dan mengutarakan segala hal yang baik yang
saya ketahui pada seseorang.”
Dalam penggalan kisah tersebut,
Franklin tidak ingin mengkritik, mencerca, dan mengeluh. Menimbulkan perasaan
benci yang menyebabkan dendan selama hidup itu adalah hal yang gampang. Buat
saja kritikan yang dapat menyakitkan perasaan. Seorang pemimpin lebih baik
mencoba memahami anggotanya daripada mencerca dan menjelek-jelekan namanya.
Bersikap positif terhadap anggota dan mengambil manfaat yang banyak sekali
daripada kritik ataupun hinaan; sikap ini menimbulkan simpati, toleransi dan
kebaikan. “Mengetahui semuanya adalah memaafkan semuanya.”
John Dewey(1859-1952), salah seorang filsuf Amerika
Serikat dan dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang
pendidikan. Dewey mengatakan bahwa dorongan yang paling mendalam pada diri
manusia adalah “hasrat menjadi penting”. Ingatlah itu, “hasrat menjadi
penting”. Apa yang seseorang inginkan? Beberapa
hal yang diinginkan kebanyakan orang mencakup:
1.
Kesehatan dan
kelangsungan hidup
2.
Makanan
3.
Tidur
4.
Uang dan
kebutuhan hidup
5.
Kerohanian
6.
Kepuasan Seks
7.
Kesejahteraan
dalam berkeluarga
8.
Perasaan diri
penting
Semua
keinginan ini disebut Dewey “hasrat menjadi penting”.
Abraham Lincoln(1809-1865) pernah
mengatakan, “setiap orang menginginkan pujian”. William James(1842-1910) adalah
seorang filsuf Amerika Serikat mengutarakan, “prinsip yang paling mendalam pada
sifat manusia adalah kehausan untuk dihargai.” Kata yang dipakainya ini adalah
kehausan. Hal ini lebih besar dibandingkan dengan harapan, keinginan, atau
dambaan. Maka dari itu seorang pemimpin itu harus terus-menerus memuaskan
kehausan isi hatinya dalam bentuk pujian ataupun penghargaan. Maka dari hal
ini, akan mewujudkan sesuatu keharmonisan. Namun, hanya sedikit orang yang bisa
demikian.
Abraham Lincoln pernah mengatakan
bahkan hal ini sudah lebih dari dua ratus tahun yang lampau, “ Setetes madu
menarik lebih banyak lalat dibanding segalon yang pahit,” pepatah kuno ini
benar sekali. Maka, bila anda ingin menarik orang lain pada pendapat anda,
pertama-tama yakinkan dia bahwa anda orang yang tulus. Itulah setetes madu yang
akan menawan hatinya dan itulah cara yang mulus untuk memengaruhi orang.
Tapi seorang pemimpin itu harus
pandai menemukan jati dirinya. Jati diri yang dimaksud ialah menunjukan bahwa
makna hidup kita terletak pada apa yang dia hasilkan. Pemimpin itu harus pandai
menerima diri dia apa adanya, menyadari dengan jelas hal-hal yang baik dan yang
kurang baik, serta giat akan melakukan hal yang bisa membuat cita-citanya
tercapai, agar tidak akan lagi menyia-nyiakan waktu dan tenaga untuk
bercemas-cemas.
Sumber
Bacaan: Carnegie,
Dale. 2011. Petunujuk Menikmati Hidup Dan Pekerjaan. Jakarta: PT Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar