Minggu, 17 April 2016



Aku Sang Sejati
By: Azmi Jabbar Nasution

Menjadi seorang Pemimpin pasitinya harus mempunyai kriteria menggerakan, komunikasi efektif, serta mampu menghadapi masalah yang ada. Amanah seorang pemimpin itu sangat berat dimana dia harus mempedulikan anggotanya, tugas yang dipikulnya, dan bagaimana semua anggotanya bekerja dalam satu koridor dengan sang pemimpin, serta anggotanya bekerja dengan sepenuh hati apa yang di perintahkan.
            Terkadang ada pemimpin yang bermuka dua yang selalu hanya memikirkan kepentingan dirinya saja. Dia tidak memikirkan apa yang diinginkan anggotanya, dia selalu hanya memerintahkan anggotanya untuk bekerja keras agar hasil yang didapat akan menjadi miliknya. Tidak ada orang yang senang diperintah, pemimpin yang selalu hanya memberikan instruksi tidak pernah memberikan kepercayaan kepada anggotanya dalam bentuk pikiran, solusi ataupun tindakan, pastinya anggota tersebut tidak akan bekerja dalam sepenuh hati dan dalam ini akan mejerumus kegagalan dalam suatu hal.
            Owen D. Young (1874-1962) adalah seorang pengusaha dan pengacara Amerika Serikat. Owen D. Young seorang pemimpin yang suka memberika usulan, bukan perintah. Misal, Owen D. Young tidak pernah berkata, “Kerjakan ini, lakukan itu,” atau “Jangan kerjakan ini, jangan lakukan itu.” Dia akan berkata, “Tolong pertimbangkan hal ini,” atau “Apa kira-kira yang bisa dikerjakan?.” Dia selalu memberi kesempatan pada orang untuk melakukan apa-apa sendiri; dia tidak pernah menyuruh anggotanya melakukan suatu pekerjaan; dia membiarkan mereka mengambil prakarsa sendiri, dan belajar sesuatu dari kesalahan yang mereka perbuat.
            Dari hal ini pemimpin harus saling percaya terhadap anggotanya sendiri, agar anggotanya tersebut akan suka teknik kepemimpinanya. Bila teknik kepercayaan ini dilakukan dengan baik, seorang pemimpin akan mudah memperbaiki kesalahan. Teknik ini juga mengembangkan kebanggaan seseorang dan memberikan perasaan bahwa dirinya penting. Teknik ini mengembangkan sikap kerja sama, menjauhkan sikap memberontak.
            Benjamin Franklin(1706-1790) adalah tokoh besar Amerika Serikat, Ia seorang wartawan, penerbit, dan diplomat. Franklin, ketika muda sosok orang yang tidak peka, menjadi diplomatis dan begitu andal dalam menangani orang, karena hal ini dia ditugaskan menjadi duta besar Amerika untuk Prancis. Rahasia Sukses Franklin ialah; “saya tidak akan bicara buruk tentang orang lain,” dan mengutarakan segala hal yang baik yang saya ketahui pada seseorang.”
            Dalam penggalan kisah tersebut, Franklin tidak ingin mengkritik, mencerca, dan mengeluh. Menimbulkan perasaan benci yang menyebabkan dendan selama hidup itu adalah hal yang gampang. Buat saja kritikan yang dapat menyakitkan perasaan. Seorang pemimpin lebih baik mencoba memahami anggotanya daripada mencerca dan menjelek-jelekan namanya. Bersikap positif terhadap anggota dan mengambil manfaat yang banyak sekali daripada kritik ataupun hinaan; sikap ini menimbulkan simpati, toleransi dan kebaikan. “Mengetahui semuanya adalah memaafkan semuanya.”
John Dewey(1859-1952), salah seorang filsuf Amerika Serikat dan dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan. Dewey mengatakan bahwa dorongan yang paling mendalam pada diri manusia adalah “hasrat menjadi penting”. Ingatlah itu, “hasrat menjadi penting”. Apa yang seseorang inginkan?  Beberapa hal yang diinginkan kebanyakan orang mencakup:
1.      Kesehatan dan kelangsungan hidup
2.      Makanan
3.      Tidur
4.      Uang dan kebutuhan hidup
5.      Kerohanian
6.      Kepuasan Seks
7.      Kesejahteraan dalam berkeluarga
8.      Perasaan diri penting
Semua keinginan ini disebut Dewey “hasrat menjadi penting”.
            Abraham Lincoln(1809-1865) pernah mengatakan, “setiap orang menginginkan pujian”. William James(1842-1910) adalah seorang filsuf Amerika Serikat mengutarakan, “prinsip yang paling mendalam pada sifat manusia adalah kehausan untuk dihargai.” Kata yang dipakainya ini adalah kehausan. Hal ini lebih besar dibandingkan dengan harapan, keinginan, atau dambaan. Maka dari itu seorang pemimpin itu harus terus-menerus memuaskan kehausan isi hatinya dalam bentuk pujian ataupun penghargaan. Maka dari hal ini, akan mewujudkan sesuatu keharmonisan. Namun, hanya sedikit orang yang bisa demikian.
            Abraham Lincoln pernah mengatakan bahkan hal ini sudah lebih dari dua ratus tahun yang lampau, “ Setetes madu menarik lebih banyak lalat dibanding segalon yang pahit,” pepatah kuno ini benar sekali. Maka, bila anda ingin menarik orang lain pada pendapat anda, pertama-tama yakinkan dia bahwa anda orang yang tulus. Itulah setetes madu yang akan menawan hatinya dan itulah cara yang mulus untuk memengaruhi orang.
            Tapi seorang pemimpin itu harus pandai menemukan jati dirinya. Jati diri yang dimaksud ialah menunjukan bahwa makna hidup kita terletak pada apa yang dia hasilkan. Pemimpin itu harus pandai menerima diri dia apa adanya, menyadari dengan jelas hal-hal yang baik dan yang kurang baik, serta giat akan melakukan hal yang bisa membuat cita-citanya tercapai, agar tidak akan lagi menyia-nyiakan waktu dan tenaga untuk bercemas-cemas.    
Sumber Bacaan: Carnegie, Dale. 2011. Petunujuk Menikmati Hidup Dan Pekerjaan. Jakarta: PT Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar